Setelah Ramadan maka otomatis lebaran ya. Rasanya happy karena bisa bertemu lagi dengan keluarga besar. Akan tetapi momen ini bisa menjadi horor karena banyak orang yang membanggakan anak atau cucunya, lalu membandingkannya dengan anak lain.
PexelsApakah kalian jadi
sedih ketika anaknya jadi bahan perbandingan dan akhirnya di-bully massal? Misalnya dulu Saladin
pernah dibandingkan dengan anak lain, karena sempat speech delay. Memang anakku baru bisa bicara di usia 3,5 tahun.
Akan tetapi sebuah
kelemahan bukan berarti membuat anak jadi bahan bullying dan dibandingkan dengan anak lain. Kalian merasa sedih
juga gak, sih? Sudah membesarkan dan merawat anak dengan sekuat tenaga,
pikiran, dan perasaan, eh malah dibandingkan dan dihina dengan dalih
“bercanda”. Ngenes banget, gak?
Sebaliknya, anak
menjadi bahan perbandingan oleh orang lain karena rupa atau prestasinya. Nahh
dulu tuh daku kaget banget karena saat bertamu, ada orang yang memanggil
anaknya dengan sebutan “ireng”
(hitam). Dia lantas memuji Saladin yang kulitnya lebih putih.
Daku pun tak enak hati
dan memutuskan untuk cepat berpamitan. Dalam perjalanan, daku berharap semoga
anak yang dipanggil “ireng” oleh
ibunya sendiri tidak trauma atau sakit hati. Kok bisa ya seperti itu?
Silaturahmi
yang Mengetes Kesabaran
Saat lebaran dan
bersilaturahmi memang mengetes kesabaran. Awalnya memang basa-basi, tanya kabar
terbaru, kesehatannya bagaimana, dll. Sambil menikmati kue kering, bisa ngobrol
dengan hangat.
Akan tetapi lama-lama keadaan
jadi ngeselin karena ada perbandingan
antar anak. Mentang-mentang masih berstatus kerabat dekat jadi ngomong
seenaknya. Padahal baru saja bermaaf-maafan, sudah kepengen ngomel dalam hati
saking sebalnya.
Beneran deh, kalau ada
yang suka membanding-bandingkan dan mulai nyinyir ke anak, mending segera
berpamitan. Daripada situasi makin panas lalu ada kerusuhan di momen lebaran.
Kita pergi bukan karena kalah, tetapi mencari kewarasan.
Mereka
yang Mencari Validasi
Apa yang ada di pikiran
orang yang suka membandingkan anak? Daku bukan psikolog ya tapi mengamati
fenomena ini yang hampir terjadi di setiap hari raya. Pertama, orang yang suka
membandingkan biasanya dulu jadi korban. Maksudnya, dia pernah dibandingkan
dengan orang lain dan menganggap itu sebagai hal biasa, lalu melakukannya ke
orang lain.
Kedua, orang yang suka
membandingkan anak biasanya hanya mencari validasi dari orang lain. Misalnya
saat anaknya tidak picky eater maka
dia akan membandingkan dengan anak lain yang susah makan. Validasi dia butuhkan
demi keunggulan diri sendiri.
Penyebabnya apa? Orang
yang haus validasi biasanya memang jarang diapresiasi oleh lingkungannya. Jadi
saat ada yang mulai beraksi dengan membandingkan anaknya dengan anak Bunda,
biarkan saja. Malah kasihan jatuhnya karena sebenarnya dia ingin dipuji.
Apakah
Harus Menolak Perbandingan dengan Tegas?
Belajar sabar dan
mengontrol diri memang diperlukan jika berhadapan dengan mahkluk “ajaib” alias
yang suka membandingkan anak dengan orang lain. Bisa saja kita balas dengan
kata-kata pedas atau menggebrak meja. Akan tetapi hal ini bisa merusak
silaturahmi dan membuat hari raya jadi peperangan antar keluarga.
Ingat pepatah Jawa
zaman dulu “sing waras ngalah” (yang
sehat mentalnya yang mengalah). Jadi tidak usah membalas tingkah orang yang
hanya haus validasi. Saat kita membela anak dan kelepasan ngamuk, bisa jadi orang yang hobi membandingkan malah senang,
karena dia berhasil memancing emosi.
Akan tetapi kalau
memang sudah terlanjur kesal (dengan perbuatannya di masa lalu), kita punya
pilihan untuk tidak berkunjung ke rumahnya. Lebih baik tidak kontak dengan
manusia toksik daripada makan hati. Untuk sosial medianya juga bisa diblokir
sekalian.
Menyuntikkan
Rasa Percaya Diri ke Anak
Sayang sekali yang jadi
korban dari perbandingan anak adalah anak itu sendiri. Dia jadi minder karena
merasa sepupunya lebih tinggi, berprestasi, dll. Akibatnya, anak malas diajak
ikut acara keluarga dan memilih untuk mengurung diri di kamar.
Tugas kita sebagai
orang tua adalah menyuntikkan rasa percaya diri. Peluk anak dengan hangat dan
bisikkan bahwa ibu dan ayah menyayanginya, walau dia belum mendapatkan nilai
100 di semua pelajaran. Anak akan perlahan punya rasa percaya diri karena
merasa dicintai tanpa syarat.
Kemudian, hormati
pilihan anak saat dia tidak mau diajak ke acara keluarga. Kita saja yang orang
dewasa malas kalau bertemu orang-orang “error” (yang toksik). Apalagi anak-anak
yang perasaannya lebih halus. Biarkan mereka bebas di rumah (tentu sambil
dijaga PRT atau bibinya) jika tidak mau diajak ke acara keluarga.
Jangan
Ikut Murung
Saat anak
dibanding-bandingkan, jangan ikut murung dan menyalahkan diri sendiri. Kita
juga sudah berusaha keras untuk mendidik anak di rumah, memilihkan sekolah yang
bagus, mengajarinya sopan-santun, dll. Jika anak memang terlihat kurang
dibanding dengan kerabatnya, bukan berarti salah ibunya.
Anak sudah cukup
berusaha di sekolah, bukan? Jadi ibu juga jangan galau berkepanjangan. Nilai
bagus masih bisa dikejar. Tinggi badan anak juga bisa dinaikkan dengan cara
minum susu dan olahraga. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan murung sepanjang
hari karena tidak ada gunanya.
Tiap
Anak Unggul dengan Segala Keunikannya
Ingatlah bahwa tiap anak itu unik dan memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya ada anak yang nilai matematikanya biasa saja. Akan tetapi dia mahir menggambar. Ada juga anak yang harus berusaha keras dalam pelajaran yang butuh hafalan, tetapi lebih berbakat merajut dan keterampilan lain.
PexelsPrestasi anak tak hanya
di sekolah (akademik) tapi juga non akademik. Jadi jika anak punya hobi di
bidang kesenian, lalu dibandingkan dengan anak lain yang pintar matematika,
biarkan saja. Penyebabnya karena manusia punya 8 jenis kecerdasan dan jangan
hanya dilihat berapa nilai IQ-nya.
Lantas mengapa masih
ada orang yang usil dan suka membandingkan anak? Sabar dulu, bisa jadi mereka
memang tidak faham kalau anak punya keunggulan masing-masing. Mereka masih
terpaku di zaman dulu, ketika IQ tinggi menjadi standar kesuksesan, padahal
hidup sudah berubah begitu cepat.
Kesimpulan
Jadi, kesimpulannya
ketika kita bersilaturahmi atau bergaul dengan banyak orang, tidak bisa
menghindar dari perbandingan. Jangan lekas emosi jika anak dianggap lebih buruk
daripada anak lain,. Penyebabnya karena bisa jadi orang itu hanya asal nyeplos atau mencari validasi.
Daku pernah baca (maaf
lupa di mana) sebuah quote yang
isinya kurang lebih seperti ini: kita
punya dua tangan untuk menutup telinga tapi hanya ada satu tangan untuk
menutup mulut orang lain. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan, yakni emosi
diri sendiri saat anak dibandingkan dengan yang lain.
Yakinlah bahwa anak
sudah melakukan yang terbaik, terus belajar, berkreasi, dan nurut pada kedua
orang tuanya. Jadi ketika ada pihak lain yang sibuk membandingkan, biarkan
saja. Anggap sebagai angin lalu dan tidak usah dipikirkan sampai bikin over thinking dan sakit hati.
Sebel ya kalo di banding"in dengan yg lain.. Pan ada lagunya.. Ojo dibanding" ke hehe... Momen ngumpul silaturahim jadi agak gk enak ya.. Dah itu sering juga buat para jomblo di tanya.. Kapan nikah.. Kapan punya anak, kerja di mana.. Koq anaknya cuman satu... Pusing...
BalasHapusLagunya Farel ya...
HapusSepakat, jika ada yang membandingkan, terlepas dibandingkan lebih baik atau lebih buruk hempaskan saja jangan terlalu dipikirkan agar kita tidak jadi sombong jika dibandingkan lebih baik dan tidak overthinking jika dibandingkan lebih buruk
BalasHapusAku pernah juga nih, kepancing emosi.
BalasHapusPas lagi pada cerita anak-anak, aku ikutan memuji anakku sendiri. Eh, malah dikatain "Kalau memuji anak, jangan berlebihan."
Hmmm.. sejak itu, jadi evaluasi buatku si.. gak ada gunanya cerita ke orang lain yaa.. even itu mungkin keluarga besar. Selalu adaa aja POV berbeda.
Semoga dijauhkan dari keburukan-keburukan yang mengundang cacian.
Alhamdulillah, ka Avi orangnya langsung menarik diri.
Ini harus aku contoh sii.. biar ga berlarut-larut ada di lingkungan sperti itu.
Terima kasih Mbak untuk reminder nya, apalagi sebentar lagi mau lebaran, momen kita ketemu orang banyak. Mudah-mudahan kita tidak terpancing untuk membandingkan anak-anak atau bahkan menjadi korban yang dibandingkan
BalasHapusSemoga aja kita dijauhkan dari orang-orang yang modelnya seperti itu ya, suka membanding-bandingkan. Apalagi di momen lebaran seperti ini, nggak patut ngomongin hal sepele kayak gitu.
BalasHapusNggak habis pikir emang sama orang yang suka bandingin anak terus pamer seakan anaknya udah yang paling hebat sejagad raya.
BalasHapusAku sebel banget sih sama keluarga yang demen membanding-bandingkan anaknya. Meski katakanlah yang dibandingkan adalah adikku yang notabene katanya lebih baik dari anak mereka.
BalasHapusApa ya mereka tidak bisa memahami bahwa dibanding-bandingkan tuh nggak enak banget.
postingan ini relate banget! Momen Lebaran memang sering jadi ajang "pamer" prestasi anak. Padahal, setiap anak itu unik dengan kelebihan masing-masing. Dibanding-bandingkan itu rasanya pasti nggak enak, bikin insecure, dan bisa merusak hubungan keluarga. Semoga para orang tua lebih bijak, ya.
BalasHapusOrtu yang suka membanding-bandingkan anak (dengan saudara kandungnya atau anak anak orang lain) adalah ortu yang tidak bahagia dan menyimpan luka batin. Sayangnya, banyak ortu yang nggak mau mengakui ini dan sejuta persen yakin bahwa dia baik-baik saja.
BalasHapusMomen lebaran harusnya jadi hal yang menyenangkan. tapi ada saja orang-orang yang merusaknya. termasuk membanding-bandingkan anak kita dengan anak lain. Padahal... setiap anak mempunyai kelebihan masing-masing. Bisa saja ada Saladin dulu proses bicaranya tidak cepat, tapi saladin mempunyai kemampuan yang lain.
BalasHapusDan memang, seperti kata bijak, kita tidak bisa menutup mulut orang lain, tapi kita bisa menutup kedua telinga kita. Jadi lebih baik segera menghindar dari orang-orang itu.
Justru dr tulisan ini, kita selalu diingatkan utk tdk membandingkan anak kita dgn org lain. Begitu sebaliknya ya. Kasus ini terus berulang, terutama bg keluarga yg minim literasi parentingnya.
BalasHapusAku aja sampe skrg udh hampir 40 thn jg selalu dibanding2kan dgn anak org lain. Lah smua org punya kasus berbeda. Beda pula start kerja dan kekayaan ortunya.
Smg ortu di mana pun berada bs belajar dr tulisan di atas, biar ga membandingkan anak org lain dgn anak kita. Berapapun usianya. Percayalah, setiap anak itu unik. Mereka membawa ciri dan karakter masing2.
Kalau si anak dibanding²kan dengan anak orang lain, apakah nantinya si anak gak berontak lalu membanding²kan juga orangtuanya dengan orangtua orang lain ya
BalasHapusJika menghadapi situasi seperti ini satu hal yang paling saya harus sadari pertama kali adalah saya tidak bisa mengontrol perilaku orang lain terhadap kita. Jadi yang harus kita kontrol adalah reaksi kita terhadap perilaku mereka. Biasanya saya akan memberi pengertian kepada anak bahwa kemungkinan akan menerima perlakuan seperti itu membanding-bandingkan, nah jika terjadi demikian biarkan saja. Jangan didengarkan karena tidak semua omongan orang itu harus kita dengarkan. Paling kalau nanti memang ada yang bertindak seperti itu yaaa senyumin saja...
BalasHapusItulah kadang yang bikin malas silaturrahmi di Indonesia hehehe. Sering ada basa-basi yang berujung pada pencampuran urus pribadi. Kalau orang dewasa yang kena, ya okelah, tapi kalau anak-anak yang kena emang bikin geram sendiri. Buat orang tua, ya baiknya emang abaikan saja, fokus saja ke pemenuhan cinta pada anak sehingga anak juga mengerti, bahwa orang di luar dirinya hanyalah angin yang berlalu.
BalasHapus