Minggu, 23 Maret 2025

Gentle Parenting vs VOC Parenting, Benarkah Orang Tua yang Terlalu Lembut Bikin Anak jadi Pemalas?

 Kemarin daku melihat sebuah postingan di sosial media. Isinya kurang lebih seperti ini: si ibu merasa stress karena anak-anaknya susah diatur sehingga dia sering marah. Dia bertanya pada netizen, adakah di antara mereka yang soft spoken?

Yang dimaksud soft spoken adalah ibu yang sabar banget, suaranya lembut, dan bahkan tidak pernah marah. Orang tua seperti ini menerapkan gentle parenting. Kalau bicara benar-benar halus seperti Umma-nya Nussa dan Rarra (siapa suka nonton serial ini juga?).

                                       dari akun FB Nussa  Rarra




Akan tetapi kolom komentar malah berubah jadi ajang perdebatan yang mengerikan. Di mana ada ibu yang bangga punya anak dengan didikan VOC alias keras. Sementara ada ibu lain yang cerita kalau dia kontra dengan ibu yang soft spoken karena terlalu menerapkan gentle parenting sehingga menghasilkan anak-anak yang malas.

Pengertian Gentle Parenting

Sebenarnya apa arti gentle parenting? Ini adalah metode membesarkan dan mendidik anak dengan lembut. Anak lebih sering dipanggil dengan sebutan “sayang” atau “cinta”. Jika dia tidak sengaja melakukan kesalahan, sang ibu hanya mengingatkan untuk lebih berhati-hati dan jangan diulangi lagi.

Beberapa tahun ini mulai ada gerakan gentle parenting agar anak bisa merasakan kasih-sayang yang sesungguhnya. Anak tidak merasa takut dan mau dekat dengan orang tuanya, karena memang jarang sekali marah. Kecuali kalau ada kesalahan yang besar, orang tua baru mengingatkan dengan nada tinggi.

                            Pixabay
 

Jadi gentle parenting itu bukan berarti ayah atau ibunya sabar dan lemah-lembut terus-menerus ya. Pasti ada masa di mana salah satu orang tua mengingatkan dengan tegas. Kalau anak melakukan kesalahan besar juga dihukum tapi tidak main fisik. Misalnya dengan hukuman potong uang saku, tidak boleh keluar rumah saat liburan, dll.

Sisi Positif Gentle Parenting

Ada beberapa keunggulan dari gentle parenting. Pertama, anak bisa lebih dekat (secara emosional) dengan ayah dan ibunya. Mereka mau bicara layaknya dengan teman sebaya, tapi masih tetap menghormati orang tuanya. Penyebabnya karena sang ibu memang berperangai halus dan tidak emosional.

                                       Pixabay 

Kedua, anak juga tumbuh menjadi pribadi yang penuh dengan kasih-sayang. Dia lebih mudah empati dan suka memeluk saudaranya. Anak juga jarang marah karena memang tidak diberi contoh kemarahan yang membabi-buta oleh orang tuanya.

VOC Parenting Itu Apa?

Sebaliknya, ada VOC parenting yang biasanya merupakan didikan zaman dulu. Di mana anak diajari dengan keras, tegas, dan kalau perlu main tangan. Alasannya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat karena sejak kecil sering dimarahi. Bahkan ada ibu yang berprinsip kalau lebih baik anak dimarahi olehnya daripada dimarahi orang lain.

                                 Pixabay

Alamak! Tak terbayang anak yang dapat didikan VOC parenting. Dia takut melakukan kesalahan karena jika menumpahkan makanan, akan dicubit. Kalau malas mengerjakan PR, sabuk bisa melayang. Aduuuh, ini anakmu kenapa jadi korban KDRT, duhai orang tuaaaaaaa!  

Trauma Akan Kekerasan

Anak yang jadi korban VOC parenting bisa mengalami trauma akan kekerasan. Mereka takut untuk berdekatan dengan orang tuanya, dan memilih untuk merantau seusai kuliah atau sekolah. Bertemu orang tua hanya dalam kondisi formal, misalnya saat lebaran.

                                                 Pexels              

Yang menyedihkan adalah siklus kekerasan di mana para korban berubah menjadi pelaku. Saat anak sudah dewasa maka dia akan bersikap keras juga karena meniru perlakuan ibunya di masa lalu. Siklus negatif yang berulang dan mengerikan.

Oleh karena itu sebaiknya sebelum menikah, calon istri dan suami wajib menceritakan gaya parenting orang tua masing-masing dan membuat kesepakatan. Kalau ada salah satu “lulusan” VOC parenting maka bisa konsultasi dulu ke psikolog atau konselor keluarga. Jadi bisa menyembuhkan inner child dan tidak akan berlaku buruk ke anak.

Apa Benar Gentle Parenting Bikin Anak Malas?

Kembali ke pembahasan gentle parenting. Apa benar akibatnya anak jadi mager alias malas gerak? Jadi ibunya terlalu soft spoken sehingga tidak didengarkan oleh anaknya, dan dia jadi tidak mau membantu pekerjaan di rumah seperti menyapu dan menyiram tanaman?

Bukan begitu ya pemirsa! Anak malas atau rajin sebenarnya tergantung didikannya. Kalau ibunya lemah-lembut tapi mendidik dengan tegas, maka anak bisa rajin, kok!

Misalnya ada ibu yang suaranya lembut, jarang marah, tapi anak-anaknya rajin bantu cuci baju, beresin lemari, dll. Anak mau melakukan dengan suka-rela karena dia sudah dilatih untuk mandiri sejak kecil. Kemudian, dia juga dipuji saat mau bantu mengepel lantai. Anak akan happy lalu merasa jadi hero setelah menolong ibunya.

Orang Tua yang Sangat Perfeksionis

Salah satu penyebab anak jadi malas adalah orang tua yang terlalu perfeksionis. Misalnya saat anak menumpahkan air dari teko, langsung dimarahi. Padahal dia sedang belajar menuang air minum sendiri.

Bayangkan jika kalian ada di posisi anak. Saat ingin belajar masak mie malah diejek, dibilang kelembekan. Ketika mau menyapu malah dibilang kurang bersih. Akibatnya anak jadi malas bantu-bantu di rumah karena standar kebersihan ibu yang terlalu tinggi dan kebiasaan menghina tiada tara.

                                   Saladin

Jadi orang tua memang harus sabar seluas samudra, apalagi saat mengajarkan anak bersih-bersih. Kalau misalnya bantu mengepel tapi kurang resik, biarkan aja, tapi puji dulu insiatifnya. Nanti kalau dia lagi main keluar bisa diulang lagi ngepelnya. Yang penting dia tidak pusing karena sudah mau membersihkan rumah dan dapat respon positif.

Terlalu Memanjakan Anak

Penyebab lain dari kemalasan anak adalah kebiasaan memanjakan yang keterlaluan. Misalnya anak sudah SMA tapi dicucikan bajunya. Minimal dia sudah belajar mencuci pakaian dalamnya sendiri dan paham cara kerja washing machine. Sehingga saat PRT mudik atau ibu sakit tidak kelimpungan.

                                      Pexels

Ada juga anak yang terima beres. Saat bangun tidur tinggal mangap karena sarapan sudah tersedia. Lalu dia main game tanpa mandi pagi. Saat siang baru merengek minta jajan seenaknya sendiri. Jangan dibiasakan karena anak bisa malas mandi dan malas ngapa-ngapain ketika liburan.

Orang tua wajib paham kalau kasih-sayang pada gentle parenting bukan berarti harus memanjakan anak. Boleh saja membiarkan mereka bermain tapi harus ada jam malam. Saat anak mau makan sesuatu (misalnya kentang goreng) maka wajib untuk bantu kupas kulit kentang (pakai peeler biar lebih mudah).

Kesimpulan

Pengasuhan yang keras alias VOC parenting sudah tidak relevan dengan zaman sekarang karena anak sudah lebih pintar berdebat dan kritis. Mereka bisa balas cubit atau memviralkan kekerasan dalam rumah tangga, karena merasa kesal akan orang tuanya. Lagipula kalau dipukul sakit, kan? Mengapa kalian tega menyakiti anak sendiri?

                                        Pixabay

Kemudian, orang tua atau calon orang tua wajib paham bahwa didikan halus pada gentle parenting bukan berarti membuat anak jadi manja. Saat ibu bicara dengan halus maka ayah mengimbangi dengan ketegasan. Anak jadi belajar disiplin dan tidak malas-malasan.

 

9 komentar:

  1. Gentle parenting pada dasarnya baik.
    Hanya saja, beberapa manusia salah mengartikan, dan keliru saat mengeksekusi.
    Inget ada video pendek, tentang anak yg tantrum trus mecahin botol2 di supermarket (kayaknya di Amrik), trus ada sekuriti yg mau nertibin...lah kok emaknya malah bilang "Don't touch my daughter, it's okay..."
    LHAAAA, piye karepmu, buukk :))) kalo anak sampai tahap merusak kek gitu ya kudu distop dan diingatkan, bukannya dibiarkan.

    BalasHapus
  2. Hahaha aku kalau bahas ini bisa sedikit emosi
    Soalnya aku pernah dikatain VOC Parenting banget
    Lha gimana kemudian didik anak kelas 4 SD kalau kudu dilembutin terus?
    Tegas ya tegas bagiku itu wajib
    Keras (main fisik ya nggak) ga mungkin
    Soalnya kelas 4 SD tuh minimal sudah bisa cuci piringnya sendiri dan underwear-nya sendiri apalagi anak perempuan

    BalasHapus
  3. Menurutku, setiap gaya parenting pasti ada sisi positif dan negatifnya. Gentle parenting memang menekankan kelembutan dan kasih sayang, tapi bukan berarti memanjakan anak. Penting untuk tetap memberikan batasan dan mengajarkan tanggung jawab.
    Kuncinya adalah menemukan keseimbangan. Orang tua perlu bersikap tegas tapi tetap penuh kasih sayang. Jangan sampai kelembutan disalahartikan sebagai kelemahan, atau ketegasan jadi kekerasan. Setiap anak unik, jadi gaya parenting yang cocok pun bisa berbeda-beda.

    BalasHapus
  4. Kayaknya memang masih banyak yang salah mengartikan soal gentle parenting ini. Jadi dikira orang tua yang ngomongnya halus lembut selamanya pada anak. jadi walau anak salah atau kurang pas bersikap, dihalusin terus hahaha. Tegas tidak harus berkata kasar. Bicara halus dan lembut tapi ada penegasan. Karena anak itu peniru ulung. jangan sampai menerapkan VOC parenting, anak kemungkinan besar akan nantinya berkata kasar juga. Tapi memang semua kembali ke orang tua masing-masing. Karena masih banyak orang tua yang saklek, merasa apa yang diajarkan kepada anak adalah sudah yang paling benar.

    BalasHapus
  5. aku tim yang lebih memilih gentle parenting sie mbaa...tapi gentle parenting yang mempunyai ketegasan, bukan berarti kita selalu bersikap lemah lembut kepada anak dan memenuhi semua permintaan mereka,,,kita sebagai orang tua juga mempunyai batasan hal2 yang harus tegas agar anak2 juga bisa lebih bertanggung jawab dan mandiri pastinya

    BalasHapus
  6. Mendidik anak dengan kekerasan adalah sebuah metode yang menurut saya perlu dihindari, aseli bikin trauma anak.
    Menurutku soft spoken bukan berarti lembek, namun berusaha berkomunikasi dengan lemah lembut agar apa yang ingin diajarkan dapat di terima oleh anak dengan baik. Ketegasan juga diperlukan untuk mengimbangi soft spoken agar anak tahu betul apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
    Terkait nak yang malas, menurutku keahlian dasar bertahan hidup harus diajarkan sejak dini. Misalnya membereskan mainan yang ia berantakin sendiri, membuang sampahnya sendiri ke tempat sampah, belajar mencuci pakainnya sendiri dan hal-hal lainnya agar minimal bisa mengurus dirinya sendiri.

    BalasHapus
  7. beberapa tahun lalu keponakan teman saya mengancam akan memanggil polisi ketika dicubit oleh ibunya. Pada saat itu kami semua tertawa membayangkan kl benar ibunya dikunjungi polisi. Padahal, sebenarnya kalau sampai terjadi akan tidak lucu sama sekali. Diakibatkan karena VOC parenting sepertinya. Entah apakah akhirnya berubah jadi gentle parenting, semoga saja kejadian seperti itu tidak terulang. Dan hubungan anak sm ortunya baik2 saja

    BalasHapus
  8. aku baru tau istilah gentle parenting dan VOC parenting. Tapi memang ada orang tua yang soft spoken ke anak, tapi ga semua-muanya kalau anak melakukan kesalahan cuman didiamkan atau dibilangi aja, tapi sesekali dikasih hukuman ringan. Jadi si anak tau, kalau dia melakukan kesalahan.
    Kalau gaya VOC ini, memang bener kalau si anak pas gede takutnya jadi balas dendam ke orang lain, karena tertanam di ingatannya waktu dia kecil yang sering dikasari sama ortunya

    BalasHapus
  9. Metode VOC parenting bisa menimbulkan banyak trauma yang membahayakan ya mba. Setuju banget sih lagi pula nggak relevan juga, apalagi gen Alpha dan Beta mereka itu beneran cerdas serta kritis bisa bisa ortu masuk akun lambe karena kekerasan pada anak.

    Nah, berbagi peran. Antara Ibu dan bapak memang harus saling melengkapi terutama dalam mendidik anak. Aku termasuk orang soft spoken namun tegas jadi misal ngajarin keponakan pun nggak ada cerita aku manjain. Bahay impact jangka panjangnya soalnya.

    Thanks ya sudah berbagi terkait ilmu parenting mba Avi.

    BalasHapus