Tiap ibu pasti bangga pada anaknya, begitu juga denganku. Kadang jadi flashback saat dia masih kecil. Saladin saat lahir terlihat normal, hanya saja tangisannya keras sekali. Begitu usia 1,5 bulan dia sudah bisa tengkurap. Umur setahun bisa berjalan, lalu belajar berlari. Benar-benar menyenangkan karena kemampuan motoriknya bagus.
Perkembangan fisik
Saladin sangat cepat dan saat itu baru daku sadari kalau dia tipe anak
kinestetik. Akan tetapi saat dia bisa berlari, rasanya kewalahan. Selain
memanjat lemari, dia juga memanjat pagar rumah, naik pohon, lalu turun dengan
cara meloncat. Bagaimana tidak deg-degan tiap hari jika punya anak yang sangat
aktif sepertinya?
Mengapa
Anakku Berbeda?
Akan tetapi kemampuan
bergerak Saladin bagai berbanding terbalik dengan skill bicaranya. Dia baru bisa babbling
di usia 2 tahun lebih. Sampai usia 3 tahun pun masih diam saja. Ooh,
mengapa kau begini, sayang?
Kakek dan nenek Saladin
juga ikut bingung, apalagi bocah itu merupakan cucu pertama. Akhirnya Saladin
dibawa ke dokter spesialis THT, Alhamdulillah tidak ada masalah di telinganya.
Kemudian Saladin dibawa ke psikolog anak dan ternyata dia didiagnosa super active!
Saat itu langsung shock tapi juga lega karena Saladin
bukan autis (seperti dugaan sebelumnya). Kata psikolog, bedanya adalah anakku
masih mau menatap mata lawan bicaranya. Kalau dia memanjat juga punya tujuan
(misalnya memetik buah di pohon).
Proses
Terapi yang Melelahkan
Walau sudah didiagnosa super active daku sebenarnya masih agak
ragu, jangan-jangan ini penghalusan istilah dari ADHD? Jadi anakku adalah anak
ABK (anak berkebutuhan khusus)? Oh tidaak!
Akhirnya Saladin
melakukan terapi yakni terapi wicara dan perilaku. Ternyata terapinya juga
menyenangkan, bermain sambil belajar (daku sempat ngintip dari kamera CCTV yang
tersedia). Alhamdulillah setelah beberapa bulan Saladin bisa bicara dengan
lancar.
Anehnya, ketika kuajak
bicara dengan bahasa inggris, ngomongnya jauh lebih bagus. Ternyata selama ini
Saladin bingung bahasa, akhirnya dia memilih untuk diam saja! Oalah nak! Maaf
ya, dulu bundamu guru bahasa inggris jadi maunya mengajari sejak dini, dan
jadinya mother language-nya adalah
English.
Memang di rumah dulu
pakai 3 bahasa, Indonesia, Inggris, dan Jawa. Jadi seharusnya orang tua dan
semua yang bergaul dekat dengan anak konsisten hanya pakai 1 bahasa biar anak
tidak mengalami bingung bahasa.
Jangan
Selalu Melihat Kejelekan Anak
Setelah paham apa
keistimewaan Saladin, maka daku berusaha untuk tidak selalu melihat
kejelekannya. Memang dia lambat bicara, bahkan saat TK juga cenderung pendiam.
Tapi bukan berarti ini memalukan. Memangnya kenapa kalau anak jarang ngomong?
Dear
orang
tua, jangan selalu melihat kejelekan anak karena dia pasti akan merasa, dan
bisa rendah diri karenanya. Misalnya ketika anak masih susah ngomong, malah
dibentak, jadinya malah gagap. Saat anak pendiam, makin disuruh ngomong malah
makin mingkem.
Membandingkan
Anak dengan yang Lain?
Daku juga berhenti
membandingkan Saladin dengan anak lain. Dulu, kalau lagi capek kejar-kejaran
dengannya, sementara sudah jam 10 malam, pernah daku bertanya begini: mengapa
anakku tidak seperti anak lain yang anteng dan normal? Rasanya sedih, apalagi
ketika jam tidurnya juga berantakan.
Akhirnya daku berhenti
membandingkan karena merasa bersalah. Apa salah Saladin? seharusnya daku
sebagai orang tuanya harus lebih sabar. Bukannya berharap dia bisa anteng seperti anak lain. tiap anak
berbeda perangainya dan daku butuh waktu untuk memahaminya.
Yang kulakukan selain
berhenti membandingkan Saladin dengan anak lain adalah mengatur pola makan dan
minumnya. Meski tidak ada larangan dari dokter, tapi daku takut bocahku kena sugar rush. Jadi memang harus dikurangi
kadar gula dalam asupan makanan dan minumannya, agar dia lebih tertib dan
berkurang aktifnya.
Fase
Penerimaan
Setelah stress selama
bertahun-tahun maka daku masuk ke fase penerimaan. Bagaimanapun, sebagai
bundanya, tidak bisa terus denial. Anak
istimewa tetap anugerah dari Tuhan. Dia hadir untuk disayangi, bukan disesali.
Untuk apa daku terus
menyangkal bahwa Saladin berbeda dari anak kebanyakan? Mengapa daku selalu
marah saat dia tidak bisa diam? Padahal sebelum menikah pun sudah belajar
tentang perkembangan anak, karena ada banyak buku psikologi di perpustakaan
keluarga.
Penerimaan butuh waktu
bertahun-tahun, juga keluasan hati yang banyak. Tak mungkin daku terus
menyangkal bahwa anakku berbeda. Akan tetapi pasti ada tujuan mengapa dia
diciptakan Tuhan seperti itu.
Bersyukur Karena
Belajar Sabar
Setelah fase penerimaan
maka ada satu hal yang kusyukuri: jadi belajar untuk lebih sabar. Dulu daku
orang yang reaktif dan agak emosional. Akan tetapi ketika punya anak yang suka
menggoda, memanjat, dan tingkahnya agak ajaib seperti Saladin, mau tak mau harus
sabar.
Hati ini jadi lebih
lapang dan menerima apapun kelakuan Saladin. Dengan catatan selama tidak
melanggar peraturan atau membahayakan diri sendiri. Daku pun belajar untuk
menurunkan suara dan lebih banyak memeluknya, dan kemarahan itu menguap begitu
saja.
Menjadi
Orang Tua yang Pengertian
Memiliki anak istimewa
seperti Saladin, yang tiba-tiba sudah berlari mengelilingi rumah, atau iseng
memanjat jendela, juga membentukku untuk jadi lebih pengertian. Dia sendiri
juga belum paham mengapa tubuhnya ingin bergerak terus. Jadi yang bisa
kulakukan adalah menyalurkan energinya.
Dengan penuh
kasih-sayang dan pengertian, Saladin kuajak untuk jalan pagi, membersihkan
rumah, belajar memasak, berkebun, dll. Alhamdulillah setelah diarahkan ternyata
dia bisa melakukannya dengan cukup bagus. Energinya memang perlu disalurkan
agar tidak marah-marah di rumah (kalau dulu ngamuknya ngeri, sampai mengigit
lengan atau memukul kepalanya sendiri).
Bangga
pada Bakat Bahasa
Alhamdulillah Saladin
ternyata punya bakat bahasa. Dia belajar alphabet sejak usia 3 tahun. Bisa
dibilang dia lebih bisa membaca baru bicara. Sekarang di usia 12 tahun, dia
senang belajar huruf Rusia, Korea, China, dll.
Bahkan Saladin juga
diam-diam belajar linguistik dari Youtube. Bagaimana tidak kaget kalau dulu
daku belajar phonology di kampus,
pada usia 20 tahun. Namun anakku mampu memahaminya di usia yang jauh lebih
muda.
Tiap
Anak Punya Keunggulan Masing-Masing
Jadi, jangan terlalu
memusingkan jika ada kelakuan anak yang berbeda dari teman sebayanya, atau saat
dia divonis anak istimewa. Yakinlah anak punya keunggulan masing-masing. Saat
ada kekurangan pasti ada kelebihannya.
Pesanku, jangan terlalu
melihat kekurangan anak lalu dia disalahkan terus-menerus. Kita yang digitukan
pasti merasa tidak enak, bukan? Lebih baik fokus pada kelebihannya dan orang
tua memang harus punya toleransi dan kesabaran yang luar biasa.
Jika ingin melihat
kelebihan anak, coba dibawa ke psikolog atau konselor keluarga. Nanti akan disarankan
untuk ikut tes minat bakat sehingga terlihat dia sebenarnya punya bakat di
bidang apa. Ingat ya, ibu-ibu! Bakat itu ada banyak dan kecerdasan bukan hanya
di bidang matematika, masih ada kecerdasan yang lain.
Kesimpulan
Saat Saladin sudah 12
tahun maka daku tidak menyesal menjadi ibunya. Justru daku bersyukur karena
selama lebih dari satu dekade bisa belajar banyak hal: kesabaran, toleransi,
kasih-sayang, ilmu psikologi anak, dll. Saladin adalah anugerah yang terbungkus
dalam label anak istimewa.
Memang apapun yg terjadi dalam hidup, kita kudu legowo dulu ya Mba.
BalasHapusFase penerimaan dan ridho akan takdir Allah itu penting. Dan kita memang jangan bandingin anak dgn anaknya orang lain... Bikin overthinking!
Betul Mbak, yg penting ridho dulu.
HapusAlhamdulilah Mba jg yg peka untuk mencari tahu shg Saladin diberikan treatment yg tepat coba ke THT normal dan akhirnya ke Psikolog shg tau diganosa dan terapinya..krn ada ortu yg abai alih2 ditangani dg cepat malah dibiarkan shg delay develop kasian ke anaknya..Terima kasih Saladin keren sekali sdh memahami phonology secara otodidak
BalasHapusMalah lebih rajin dia kalau belajar bahasa, hehehee.
HapusMemang Allah ga pernah salah mengkaruniakan anak kepada ortu yg tepat 👍👍. Dengan kesabaran mba Avi, Saladin malah tumbuh semakin baik dan makin terlihat bakatnya. Ga kebayang kalo ortunya cuek atau ga peduli dan malah marah dengan segala kelakuan anak yg dia ga paham. Ngeri bayangin akibatnya. Bisa jadi anak semakin agresif, bukannya malah terkontrol dan improve.
BalasHapusIya Kak, sedih kalau lihat ada yg diabaikan, dianggap aib, dll.
HapusSetiap hal selalu memiliki tujuan. Begitu juga dengan Saladin hadir menjadi anak kak Avi pasti punya tujuan. Segala sesuatu kita perlu lebih meluas kesadarannya bahwa apa yang diberikan bahwa tanggung jawab diri untuk menjadikan baik pada semua pihak.
BalasHapusSenang sekali membaca ini karena akhirnya kak Avi mengerti bahwa Saladin hadir menjadi putramu memiliki banyak kebaikan buat.
Iyaa ada hikmahnya.
HapusSetujuuu banget mbak, setiap anak itu pasti datang dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sama seperti kita sebagai orangtuanya pun, tentu punya kekurangan dan kelebihan.
BalasHapusMakanya aku gak mau pusingin apa kata orang, dan apa kata-kata mbok-mbok tiktok. Pokoke kalo secara fisik anakku sehat, dan dokter pun bilang sehat.. ya yowis, ndak ada masalah.
Dan Alhamdulillah si, sejauh ini putri pun sehat wal afiat. Mirip-mirip kayak saladin aktifnya, kadang bisa bikin kedua orangtuanya senewen.
Jangan kan anak-anak, orang dewasa pun kalau dibanding-bandingkan pasti gak mau dan gak terima. Sampai ada lagunya ya ojo dibandingke.
BalasHapusTidak banyak orang tua yang mau memahami kondisi yang dialami anaknya. Saladin beruntung punya ibu kaya Bunda Saladin dan sebaliknya. Ada anak yang sangat aktif tapi kalau pengetahuan orang tua kurang adakalanya malah dimarahi dan disalahkan terus-terusan. Padahal mungkin kitalah yang tidak belajar, tidak sabar dan tidak mengerti.
BalasHapusTerkadang kitapun suka kecolongan, tanpa sadar membandingkan anak dengan anak orang lain, tapi saya yakin setiap ibu tidak bermaksud melakukannya, kalaupun melakukan itu ujung-ujungnya pasti rasa menyesal dan malah tambah sayang kepada si anak.
Luar biasa sekali perjuangan setiap ibu untuk membesarkan anaknya dengan berbagai karakter dan cerita. Semoga cerita ini menginspirasi orang tua yang lain :)
menjadi ibu dari seorang anak yang istimewa memang kudu sabar ya, dan aku pernah tahu ada juga orang tua yang membandingkan anaknya dengan anak lain.
BalasHapusPadahal kemampuan anak-anak juga nggak sama
kadang kalau orangtua terlalu sering membandingkan anaknya dengan anak orang lain, si anak jadi nggak percaya diri dan kemungkinan juga males ketemu sama orang
Kalau saya sangat percaya, setiap anak tahapannya berbeda. Ada yang bisa jalan duluan, ada yang lancar bicara dulu, dan lainnya. Setiap anak mempunyai kemampuan berbeda-beda.
BalasHapusDan Saladin ini memang jago manjat-manjatnya ya, Mbak. Foto pertama sempat bikin saya bengong. lemarinya tinggi. Tapi Saladin memanjat ada tujuannya.
Nah, soal Saladin lambat bicara, ternyata karena bingung dengan 3 bahasa yang digunakan. Jadi pelajaran yang bisa dipetik adalah saat proses anakk bicara, gunakan satu bahasa saja atau bahasa ibu.
Wah gk nyangka kalau selama ini saladin super aktif karena postingan di instagram saladin kelihaant kalem seperti pendiam tapi aslinya super aktif ya, sekarang berarrti saladin sudah bisa 3 bahasa ya mbak?
BalasHapusMba Avi keren banget pola pikirnya, nggak banyak orangtua yang berpikir seperti mba Avi nih. Salut pake banget aku dengan cara mba menerima, konsultasi dengan psikolog, mengusahakan terapi buat Saladin dan tahu banget Saladin termasuk anak Kinestetik.
BalasHapusTernyata Saladin ini jago bahasa Inggris pula 🤩 Masya Allah sungguh keren pake banget. Sungguh anugerah Saladin di titipkan pada mba Avi, orangtua dengan segudang cinta dan selalu memberikan yang terbaik pada Saladin bahkan paham untuk tidak membandingkan dengan anak lain.
Setiap manusia yang dilahirkan pasti memiliki 'modal' berupa bakat, kecenderungan, perilaku, dan sebagainya... Semua pasti ada tujuannya, Allah itu Maha Baik, alhamdulillah mbak dikasih pemahaman terhadap kondisi Saladin...
BalasHapusSamaan kita anaknya cowo dan anak semata wayang juga. Alhamdulillah berasa anugerah dikasih kepercayaan seorang anak. Anakku juga kayanya tipe kinestetik, nggak bisa diem soalnya tapi kalau udah agak gede sih alhamdulilah dia bisa diarahkan dan diajak sounding juga.
BalasHapusBarakallahu fiik, ka Avii..
BalasHapusBaca tulisan ka Avi bikin aku menyadari banyak hal kalau sebagai orangtua, tentu kita juga gak sempurna bagi mereka.
Jadi, sama-sama berproses.
Sama-sama belajar untuk memahami kebutuhan dasar manusia untuk dihargai dan diapresiasi untuk hal sekecil apapun.
Karena orangtua-lah tempat mereka belajar untuk memahami dunia yang lebih luas.
adek aktif bangeeeet wkwk
BalasHapusaku suka lihat anak kecil yang aktif gini
tapi emang nemeninnya jadi capek ya hehe
setujuuu tiap anak punya keistimewaannya sendiri dan itu wajar bangeeet
semoga adek sehat selalu yaa
Diagnosanya super active ya bun, bukan speech delay? Kupikir klo anak aktif banget bergerak, apalagi cowok, masih normal² aja. Krn anakku yg bontot pun aktif banget bergerak sejak di perut hehe sampe usia remaja skrg. Kecilnya gak terhitung luka dan benjol krn saking gak bisa diem. Bicaranya mmg gak bawel, tp sy gak melihat keterlambatan. Jd mmg anaknya bnyk gerak irit ngomong. Hsl tes kepribadiannya tipe kinestetik.
BalasHapusIntinya orang tua tetap harus menerima dan selalu bangga terhadap anak, apapun kondisinya ya bun. Insyaallah Saladin jd anak soleh, cerdas dan sukses di masa depan nnt dengan arahan yg tepat dr ayah bundanya.. Aamiin
Maa syaa Allaah ya Mbak dikaruniai anak yang istimewa seperti Saladin yang terlambat bicara tapi ternyata dia punya bakat bahas. Bahkan mother languange-nya bahasa Inggris. Keren.
BalasHapusOh ya kayaknya hampir semua anak terutama anak laki-laki seperti itu ya. Paling nggak bisa dia. Aktif sekali geraknya. Anak saya kayak gitu juga soalnya. Dia baru bisa tenang atau diam itu saat tidur.