Selasa, 21 Juli 2026

Menonton Ulang Harry Potter saat Sudah Dewasa, Rasanya….

 

Siapa yang potterhead kayak daku? Rasanya Harry Potter 1-8 jadi comfort movies yang asyik ditonton sampai berkali-kali. Akan tetapi, sudahkah klean merasa ada perbedaan ketika menonton acting Emma Watson cs saat kita masih kecil/remaja dengan sekarang?



Ternyata setelah menonton ulang film Harry Potter mulai dari Sorcerer’s Stone sampai Deathly Hallow part 2, ada beberapa hal yang berbeda, seperti:

Acting Para Pemeran Dewasa

            Kalau dulu tuh pas nonton Harry Potter di bioskop, maka yang dilihat selalu pemeran utamanya (golden trio) alias Daniel Radcliffe cs. Akan tetapi ketika sudah lebih dari 10 tahun dan menonton ulang, salut untuk para pemeran lain (orang dewasa) di film-film HP.

Pertama tentu saja Alan Rickman sebagai Professor Snape, yang bisa banget jadi agen ganda dan diam-diam berpihak pada Dumbledore, tidak takut akan Voldemort. Kualitas acting para professor di Hogwarts juga bagus banget.



Kemudian ada pemeran antagonis yang bikin ngeri padahal baru lihat wajahnya saja (bukan Voldemort) yakni: Bellatrix Lestrange. Helena Bonham Carter berhasil jadi penyihir jahat dan eksentrik. Memang sejak dulu doski sering berperan jadi tokoh yang nyentrik (di film-filmnya Tim Burton).


Read: Review Maid in Manhattan


            Sedangkan Ralph Fiennes berhasil jadi Tom Riddle alias Voldemort dan saat melihat mukanya, daku enggak takut, malah keseel. Padahal doi kalau tidak pakai riasan / special effect cukup tampan, lho. Bisa klean tonton di film lain seperti Maid in Manhattan.

McGonagall Bisa Marah

Professor McGonagall terkenal tegas saat mengajar tapi tidak pernah main fisik. Seperti guru lain pada umumnya, doski memanggil para murid dengan nama belakangnya, begitu juga kalau ke professor lain. 



Pengecualian ketika ada Professor Moody (palsu) yang menyihir Malfoy (karena doi ingin menyerang Harry dari belakang), saat sudah ngamuk maka yang dipanggil adalah nama depannya “Alastor”.

Kasih Ibu

            Di film Harry Potter diperlihatkan kasih para ibu. Lily Potter yang mengorbankan nyawanya demi kehidupan Harry. 



Juga ada Molly Weasley yang dengan berani bertarung melawan Bellatrix Lestrange (karena tidak rela Ginny Weasley yang diserang oleh doski). This line: not my daughter, you b**ch!

Tom Felton yang Kece

            Walau hanya pemeran pendamping, tapi acting Tom Felton OK banget lho. Apalagi di film ke-6 (Harry Potter and the Half blood Prince). Di sana doi digambarkan jadi remaja yang stress berat dan ketakutan, karena diangkat jadi death eater. Tugas utamanya adalah membunuh Dumbledore. Bahkan menurutku, acting doi di film itu lebih bagus dari acting Daniel Radcliffe.

Harry Orang Kaya dan Nice Boy

            Ternyata Harry orang kaya yaa, di film pertama aja diperlihatkan simpanan uang yang banyak di bank Gringgots. Sekolah berasrama juga bayarnya tidak murah. Tapi doi tidak menyombongkan kekayannya.



Harry emang nice boy dan doi juga tidak memamerkan kemampuannya. Doi juga mau berteman dengan hampir semua anak, termasuk Luna Lovegood yang dianggap aneh. Bahkan di film terakhir, doi menyelamatkan Draco Malfoy dari kobaran api, memakai sapu terbang! Baik banget kaaan?

Tim yang Kompak

            Tim di balik layar film Harry Potter sangat luar biasa karena untuk syuting dan pasca produksi butuh waktu sampai setahun. Untuk para pemerannya juga pas banget. Meski Patil sisters seharusnya twins (tapi susah dapat pemeran kembar beneran), akhirnya dapat 2 gadis India yang wajahnya mirip.

Lepas dari Bayang-Bayang Harry Potter

            Bagaimana ketika film Harry Potter selesai? Sepertinya para actor / aktris berusaha lepas dari bayang-bayang film tersebut. Daniel Radcliffe main di film Frankenstein dan film-film lain. Sedangkan Emma Watson jadi Meg di film Little Women, dan juga berperan jadi Belle di Beauty and the Beast.

Read: Review Film Harry Potter: Return to Hogwarts

Jangan Kena Dementor



            Konon Dementor adalah perwujudan dari depresi (diungkapkan sendiri oleh JK Rowling). Jadi kita tuh sebenarnya bisa pulih dari depresi, dengan mengingat hal-hal yang bikin bahagia. Kalau sudah terlalu parah, segera ke psikiater untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Imajinasi JK Rowling yang Luar Biasa

            Last but not least, salut untuk penulis buku Harry Potter yakni JK Rowling, yang punya imajinasi luar biasa. World building juga keren, seolah-olah Hogwarts benar-benar ada. Bahkan ada rumor kalau sebenarnya dunia sihir itu real dan JK Rowling adalah Rita Skeeter sendiri, alamak!



JK Rowling juga tidak marah saat ada fans yang bikin video AI atau naskah fanfiction Harry Potter. As long as tidak dikomersilkan, ya! Karena akan melanggar hak cipta. Dan memang sudah ada satu film tentang Voldemort muda (bikinan fans) tapi kualitasnya yaaa gitu deh.

Sudahkah klean menonton ulang film Harry Potter? Yang mana favoritmu?

Kamis, 09 Juli 2026

Review Lima Sekawan: Berkelana, Liburan Penuh Petualangan

 

Judul asli         : Five Go off a Caravan

Penulis             : Enid Blyton

Penerjemah      : Agus Setiadi

Tahun              : 1982 (cetakan kelima)

Siapa yang demen baca kisah geng Lima Sekawan? Apalagi lagi liburan tengah tahun gini, bisa kita habiskan dengan baca buku, sambil membayangkan asyiknya petualangan mereka. Kali ini, George cs berlibur dengan naik caravan. Tapi bukannya bersantai, mereka tetap saja dibuntuti oleh aksi dan misteri yang seru.



Ide liburan naik caravan muncul karena mereka (lagi-lagi) ingin melancong sendiri tanpa orang dewasa. Karena belum bisa (dan tentu dilarang) mengemudikan mobil sendiri, akhirnya caravan ditarik oleh kuda. Mereka akan liburan di dekat danau, dan membayangkan bisa bebas main air di sana.

Nobby yang Baik

            Sebenarnya, sebelum berangkat liburan, Anne cs sudah berkenalan dengan Nobby. Dia adalah anggota sirkus keliling (yang masih anak-anak), dan punya seekor monyet usil. Oleh karena itu geng Lima Sekawan juga berharap akan bertemu kembali dengan Nobby, dan melihat kehidupan anggota sirkus keliling.



            Kemudian Lima Sekawan memang belum ketemu lagi dengan Nobby tapi mereka istirahat di area dekat peternakan, sambil membeli bahan-bahan mentah (Seperti telur). Kalau mau mandi ya tinggal nyemplung di sungai. Iyaa, buku ini ditulis jauh sebelum tahun 90-an, jadi kali-nya masih jernih dan bisa buat adus.

Lou dan Tiger Dan

            Akhirnya George cs ketemu lagi dengan Nobby setelah melanjutkan perjalanan. Tapi sayang ada 2 orang sirkus yang sinis, Tiger Dan (pamannya Nobby), dan Lou. Mereka mengusir para remaja itu (yang sebenarnya sudah mau berkemah di tepi danau). Lantas Lima Sekawan mengalah dan berkemah di daerah bukit.

Read: Review Lima Sekawan: Beraksi Kembali

            Anehnya, Lou dan Tiger dan malah menyuruh Lima sekawan untuk kembali lagi ke dekat danau. Ini ada apaaa? Menyebalkan tapi sekaligus bikin penasaran.

Petualangan yang Mendebarkan

            Ternyata benar, di bukit (yang ditempati oleh caravan) ada lubang misterius! Ada apa di bawah sana? Geng Lima Sekawan terlibat petualangan, yang sangat mendebarkan, tapi lagi-lagi happy ending.



            Meski sudah terlalu banyak pengulangan akan cerita di bawah lubang, lorong, gua, dll (sampai Enid dibilang terobsesi olehnya), tapi buku ini tetap asyik untuk disimak. Di Five Go On a Caravan, pace cukup cepat. Pembaca juga bisa menikmati keindahan alam Inggris (pada zaman itu), dan tentu menambah pengetahuan.

Read: Review Lima Sekawan: Memperjuangkan Harta Finniston

Kesedihan Pasca Membaca Buku Ini

Akan tetapi ada satu hal yang membuatku sedih setelah membaca buku ini: cerita tentang Nobby. Dikisahkan dia adalah anak yatim piatu, dan sebenarnya Tiger Dan bukan paman kandungnya. Kehidupan di sirkus juga cukup keras bagi seorang anak, dan bahkan dia tidak bisa membaca (karena tidak pernah bersekolah).

Read: Review Lima Sekawan: Dalam Lorong Pencoleng

Astagaa, memang buku-buku Enid ditulis pasca perang dunia, dan bisa jadi memang ada yang terdampak. Anak-anak tidak bisa sekolah dan lebih memilih untuk bekerja. Tapii ya sudahlah, pasti di era sekarang sudah tidak ada cerita seperti ini (semoga).

Apa buku karya Enid Blyton favoritmu?

Senin, 06 Juli 2026

Yearly Villa Rental Bali for Expats: Inspections, Handover, and Renewals Without Losing Your Deposit



Having a yearly villa rental Bali inspection can feel like a countdown, because one small surprise can turn into deposit deductions at the end of the stay.

That is why the smart approach is a deposit-protection playbook, built on early documentation, a clear service scope, and renewal conversations with timelines, not last-minute emotions.

In this article, you will learn how to prepare for inspections, handle service handover smoothly, and negotiate renewal terms as part of a structured process, so you can reduce surprises and avoid the mistakes that usually cost renters money. If you are browsing options like villa for rent in bali, you can plan your process before issues even start.

Next, we will break down how the yearly rental cycle works for expats, so you know exactly where deposit risk usually shows up.

What yearly villa rental Bali means in real life

Yearly rental period and checkpoints

In yearly villa rental Bali, you are usually renting for a full tenancy year, then hitting a key checkpoint where the relationship is reviewed. That checkpoint often starts with planning for the annual inspection, then flows into service handover, and finally ends with renewal decisions.

This is the moment deposit risk shows up, because the landlord or property manager can compare “current condition plus inclusions” against what you agreed to at the start of the year.

Deposit and what typically triggers deductions

Your deposit is meant to cover clear losses, not to punish you for normal life in the villa. Deductions typically get linked to damage, missing items, unpaid fees, like utilities or other charges, and costs for correcting issues that were not part of normal wear.

When inspection notes and receipts do not match, tenants often feel blindsided. When you treat evidence and paperwork as a habit, you reduce the chance that service gaps or inventory misunderstandings turn into deposit deductions.

Inspection versus move-out condition

An annual inspection is not the same as a move-out check, even if it feels like it. The confusion happens when people assume the year-end inspection will “average things out,” so they relax on documentation until the last week.

Instead, treat the inspection as a measurement of today’s condition and inclusions, then connect it to your renewal timeline. That mindset helps you separate wear and tear from damage, and it gives you a clean way to discuss repairs before any money is withheld.

Service scope and continuity

Service scope is the set of tasks the villa receives during the tenancy, like cleaning frequency, gardening or pool care, and pest control. Continuity matters because service handover usually decides whether the same standard keeps happening during renewal.

If the scope is vague, you get “he said, she said” disputes later. Clear written handover details protect you when the inspection and renewal overlap, especially if the agent tries to charge you for what was actually missing from the agreement.

Renewal as a negotiation cycle

Renewal is rarely just about rent. In yearly villa rental Bali, it is a negotiation cycle that follows the inspection findings, confirms the inventory, and resets expectations for services in the next year.

When you negotiate after your evidence is organized and service scope is confirmed, you can push back on unfair deductions and still reach a renewal agreement that feels reasonable. Once you understand these cycle points, you can prepare for the most important practical moment, the annual inspection and service handover.

How inspections and handover protect your deposit

“A deposit is only safe when your evidence is earlier than the argument.”

If you do yearly villa rental Bali the usual way, the end of the year can feel tense. The good news is you can make it predictable with a simple, time-aware routine that covers inspections and service handover.

Before you negotiate renewal, you want the same facts on both sides: what the villa looked like, what was included, and who was responsible for fixing what.

1. Start a year-end prep timeline early

Set a start date 4 to 6 weeks before the inspection. Then assign tasks to yourself, like organizing photos, checking receipts for repairs, and confirming the inspection date with the agent or property manager in writing.

Deposit loss usually happens when people react too late. Early prep gives you time to resolve issues before deductions are locked in.

2. Build a photo and video evidence pack

Walk the villa room by room and record condition plus inclusions. Use your phone camera, and keep the files in a shared folder or an email thread so the timeline is clear.

When a claim shows up, your evidence turns a dispute into a review. That reduces “surprise deductions” because you can show normal wear, not damage.

3. Confirm inventory and inclusions early

Ask for the current inventory list and what items are included in your yearly villa rental bali agreement. Compare it against what is physically in the villa, like appliances, outdoor items, and any provided linens or tools.

Missing items are a common deduction trigger. When you catch gaps early, you can fix them, replace them, or negotiate the resolution before the inspection report is finalized.

4. Run the inspection with wear versus damage focus

During the inspection, use a wear versus damage mindset and point to the exact spots. If something is questionable, request the issue be described clearly in writing and captured with photos.

This approach matters because deposits should cover clear losses. Evidence helps the other side distinguish aging and everyday use from something that is clearly broken or mishandled.

5. Document issues immediately, not after

As soon as you notice a problem, document it in the same evidence folder. Send a short written update to the agent or manager, including what you noticed, where it is, and what you believe is needed to restore it.

Delays invite assumptions. When you document promptly, you preserve your version of events and protect your deposit negotiation position.

6. Confirm service scope and responsible parties

Before renewal starts, confirm what “services” means in practice. Get clarity on cleaning frequency, gardening or pool care, linens handling, and pest control, plus who performs each task.

Vague service scope often becomes handover disputes. Clear responsibility prevents you from paying twice, once through the service agreement and again through deductions.

7. Lock a written handover checklist

Ask for a written handover checklist that includes what will be done before renewal and by when. You can also include a simple note on what gets repaired, so it is clear what costs are expected versus unexpected.

Written checklists reduce confusion at the exact moment money decisions are made. That is how inspections and service handover set the facts, and the next challenge is negotiating renewal terms using those facts without triggering deposit loss.

Renewal negotiations that don’t trigger deposit loss

Talk fixes first, then talk rent

Start renewal conversations by addressing inspection findings and service gaps before you discuss the yearly villa rental Bali price. If repairs are needed, tie them to the exact items noted during inspection, and ask how and when they will be completed.

This order prevents resentment and power swings. You can’t negotiate a “full return” if the other side believes you already agreed to leave issues as-is. At the same time, if you skip fixes first, rent talks become a yes or no standoff.

Use this approach when there are clear issues, like worn components or inventory confusion, that could later be used to justify deductions.

Negotiate with evidence, not vibes

Bring your evidence pack into the negotiation. Point to your photos, videos, and written notes, then reference any repair quotes that support the scope of what needs fixing.

Evidence-based bargaining reduces guesswork. It also helps you push back when a deduction is vague or seems unrelated to normal wear. The weakness is effort, you need organized documentation, but the payoff is fewer surprises.

Choose this when the property manager wants verbal assurances. You want the conversation to stay grounded in facts, not impressions.

Get written timelines for deposit calculations

Ask for a written plan that explains what must be completed before renewal is finalized, and when the deposit calculation happens. Clarify who decides, what documents are used, and what timeline they follow.

Written timelines protect you from last-minute math and delayed explanations. Without them, you risk signing renewal terms while the deduction process is still undefined. This also supports fair negotiation when utilities or fees are mentioned late.

Use it when the agent tends to rush paperwork or when the renewal discussion overlaps with the inspection report.

Bundle service-scope updates into renewal

Confirm any changes to service scope as part of renewal terms, not as a side conversation. Spell out continuity, like cleaning and gardening frequency, and include who is responsible for utilities if that is not already stated.

This reduces handover disputes that can spill into deposit deductions. The downside is you might need a little back-and-forth to get clear wording, but it saves you from paying for unclear expectations later.

If you are still comparing options for yearly villa rental Bali, you may want to review listings like villa for rent in bali to understand how scope is presented before you negotiate.

Even good intentions can fail when predictable mistakes show up, and the next section covers those most common traps you can avoid.

Common mistakes expats make during annual renewals

Quick inspection means fewer deductions

Many people assume a fast inspection leaves less time to notice problems. Here is what usually happens instead, speed often means unclear notes and missing context, which can turn into heavier deductions later.

Protect your deposit by preparing evidence early, documenting wear versus damage, and keeping the inspection grounded in checklists. If something looks questionable, ask for clear written descriptions before the renewal discussion goes forward.

Service is automatic so scope is irrelevant

It feels safe to believe the villa will get the same services each month. The truth is, vague service scope creates handover confusion, then agents may treat gaps as your responsibility.

Confirm the service scope and who is responsible, in writing, before renewal terms are finalized. This directly reduces deposit risk during yearly villa rental Bali transitions.

Verbal promises from the agent are enough

Hearing “don’t worry” sounds reassuring when time is tight. Still, verbal promises are easy to disagree with after inspection paperwork is filed.

Get written confirmation of what will be repaired, what was agreed, and what costs are expected. Tie each point to your evidence pack so negotiation stays factual, not emotional.

Normal wear never matters

Some renters act like everyday aging cannot be mentioned. The problem is, “normal wear” still needs proof, especially when the inventory feels off.

Use photos and a condition log to show wear versus damage. When the discussion is specific, deposit deductions become easier to challenge.

You can negotiate deposit at the last minute

Here is what usually happens instead, last-minute bargaining turns into rushed decisions. Once terms feel locked, it is harder to argue that issues were already agreed to be handled.

Start renewal conversations earlier, use timelines for deposit calculations, and resolve repairs before signature. The goal is simple, prevent surprises.

One evidence photo is enough

One shot might look convincing to you, but it can be incomplete to the other side. Missing angles, timestamps, or item context make evidence harder to use.

Build a clear evidence pack, with room-by-room photos and short videos when needed. That way, your claims connect to inspection findings and service scope.

Even good intentions can fail when predictable patterns show up. Start today by tightening your documentation, confirming handover scope, and moving renewal discussions into writing before things escalate. If you want a head start, save this checklist and share it with your agent, then draft an email thread for the upcoming inspection and renewal discussion. When you are also browsing options, balivillahub.com can help you compare your yearly villa rental Bali options before you finalize anything.

  

Minggu, 05 Juli 2026

AI vs Human, Ketika Tulisanku Diragukan

 

 

“Kak, reviewnya dibuat setelah baca buku atau hanya melihat data dari AI?”

WHAT? Bujibuneng!

Selama belasan tahun ngeblog baru kali ini daku dapat komentar seperti ini. Klean tahu lah di tulisan yang mana, ada kok, dan komennya juga tidak kuhapus. Tapi tidak kubalas komentarnya, biarlaah, lagian akun anonym, jadi kagak tahu tuh siapa yang nulis.



Memang saat itu daku nulis review buku dengan singkat (hanya 300-an kata) tapi bukan berarti hanya pakai data di AI. Akan tetapi pertanyaan dari akun anonym membuatku berpikir, mengapa sekarang sedikit-sedikit dituduh pakai bantuan AI? Benarkah AI bisa mengalahkan otak manusia?

Bertanya ke AI

            Akhirnya daku langsung tanya ke salah satu AI. Dia jawab bahwa tugasnya bukan sebagai pengganti otak. Melainkan untuk jadi asisten. Dia juga sedih melihat fenomena belakangan bahwa banyak yang ngaku sebagai penulis padahal hanya prompter alias minta tolong AI untuk membuatkan 100% tulisan. Lantas di-copas begitu saja.



            Lantas daku tanya lagi, bagaimana jika ada yang curhat ke AI? Dia bilang kalau AI itu jadi semacam online diary tapi bisa menjawab. Ooh, seperti buku harian Tom Riddle yang ada di film Harry Potter dan Kamar Rahasia.

Karirku Sebagai Penulis Konten

Kita switch dulu ke ceritaku: dulu daku menulis (bekerja) secara freelance ke beberapa agensi content writing. Namun semuanya ambyarr. Mungkin karena bayaran semakin murah, atau banyak yang memilih untuk minta tolong AI aja untuk menulis (lalu diedit dikit). 



Daripada bayar ke agency mending pakai AI. Algoritma juga berubah jauh, jadi mungkin pekerjaan penulis konten sudah tidak cocok bagiku.

Cerita Doraemon

Akan tetapi daku langsung ingat salah satu film Doraemon Petualangan. Dikisahkan Nobita, Doraemon, dkk liburan ke tempat yang jauh sekali. Ternyata mereka masuk ke dalam suatu negeri yang ‘aneh’ karena di sana manusianya pakai bantuan robot untuk berjalan kaki.



Ada orang yang memperingatkan bahwa penggunaan mesin seperti itu tidak baik. Memang kenyataannya manusia jadi susah untuk beraktivitas tanpa bantuan robot, jalan kaki aja harus dengan penuh perjuangan. Lantas apa korelasinya?

Di film Doraemon yang ternyata dibuat tahun 90-an, sudah digambarkan kalau manusia, jika terlalu banyak menggunakan mesin/robot, akan lemah. Jangan sampai otak kita yang jadi lemah karena malas mikir dan dikit-dikit pakai AI, copas saja, bla-bla-bla. Ternyata mendiang Fujiko F Fujio sudah memprediksi hal ini.

AI vs Human

Benarkah sekarang ada peperangan baru: AI melawan manusia? Kita kutip lagi jawaban dari AI kalau dia hanya asisten. Menurutku, AI tidak bisa menggantikan peran manusia. 



Tulisan hasil AI pasti bisa dideteksi dengan mudah (kalau terbiasa baca buku dan Tanya AI) karena ada polanya. Jadi tidak bisa dikatakan ini war.

AI Sebagai Asisten

Lantas apakah daku anti AI? Sekali lagi kukatakan, daku tidak anti AI. Kadang buka AI untuk mencari isnpirasi, jawaban, dan sudut pandang baru. AI juga bilang dia bisa melakukan kesalahan, dan ketika manusia bertanya masalah kesehatan juga ada peringatan sebelumnya. Jadi seharusnya mereka langsung ke dokter saja, bukan tanya AI, gituu.



Poin penting dalam tulisan ini adalah kita tidak boleh saklek untuk anti AI karena dia bisa bantu untuk bikin outline tulisan (meski kadang kurang sesuai selera pribadi). AI juga bisa membuatkan infografis dan gambar yang bagus (tapi hati-hati menggunakannya karena bisa berlisensi non komersil). Makanya banyak yang bela-belain langganan AI berbayar demi mendapatkan lebih banyak fitur yang membantu.

Akan tetapi, kita tidak bisa bersandar terus pada AI. Minta dia untuk bikin tulisan lalu di-copy paste. Ini mah namanya menyontek. Tulisan hasil mikir sendiri juga pasti terasa beda karena feel-nya lebih dapat. Intinya, AI adalah asisten tapi kita jangan terlalu tergantung padanya.

 

Jumat, 03 Juli 2026

Mudik Dadakan saat Listrik Mati, Adu Fisik dengan Saladin

 

Hari Rabu adalah hari yang menggembirakan bagiku karena Saladin ikut kelas offline (karena sekolahnya hybrid). Kalau dia di kelas kan bundanya bisa me time sebentar, hehehe. Akan tetapi Rabu tanggal 10 Juni 2026, sangat menggemparkan karena ada tragedi listrik mati yang mengubah semua rencana.

Siang, ketika Saladin sudah pulang sekolah, ayahnya berpamitan untuk kerja di luar kota. Kami pun istirahat sebentar dan menikmati waktu berdua. Tapi keadaan berubah ketika jam 16:28 tiba-tiba….

Bunda, Saladin Takut Gelap!

BYAAR PET! Listrik mati! Saladin langsung mewek dan daku juga jadi agak takut karena tidak ada suami di rumah. Sebenarnya yang bikin si bocah manyun karena sinyal internet hilang, jadi dia tidak bisa nonton, hehehhee.

                                                  Edited by Gemini

Bagaimana ini? Listrik mati tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Mana tetangga malah nyalain genset dan nyetel lagu-lagu dangdut, alamak! Ya sudah, daku memutuskan untuk packing baju, laptop, HP, dan barang-barang lain. Lantas ganti baju, pakai kerudung, sepatu, dan mengajak Saladin untuk mudik ke rumah mama, sekalian menginap dan besoknya berangkat sekolah dari sana.

Alhamdulillah rumah orang tuaku masih satu kota (di Malang), hanya beda kecamatan. Jadi mudiknya dekat banget dan jalan kaki saja (alasan akan disebutkan di bawah). Hitung-hitung olahraga di soree hari.

Jalan Kaki Lagi dan Lagi

            Jalan kaki? Iyaa, jarak dari rumahku ke rumah ortu sekitar 3 kilometer. Saladin sudah pernah kuajak mudik dengan cara jalan kaki sebelumnya, sampai 2 kali. Jadi dia juga hafal rute ke rumah uti tersayang.

                                       Edited by ChatGPT

            Alasan lain karena sinyal internet ambyarr, jadi tidak bisa pesan taksi online. Mau minta tolong ke tetangga yang punya wifi (untuk memesankan) juga malu. Dan daku kagak bisa mengendarai sepeda motor hehehe. Yaa sudahlah, jalan kaki saja.           

            Kubilang jalan kaki lagi karena paginya daku dan Saladin sudah jalan ke sekolah yang jaraknya sekitar 800 meter dari rumah. Lanjut daku pulang dengan rute yang sama. Biasanya sih bocah bisa pulang sendiri, tapi entah mengapa dia minta jemput siangnya. Jadilah hari itu daku jalan sekitar hampir 6 kilometer, pagi, siang, dan hampir petang, untung kakinya enggak rewel.

The Power of Kepepet

            Benar-benar sore itu membuktikan the power of kepepet. Setelah selesai packing dan rapi, Saladin kuajak untuk beli susu botolan di warung tetangga. Lantas kami cepat-cepat jalan kaki karena waktu sudah mau mepet maghrib. Targetnya sebelum adzan maghrib, kami sudah sampai rumah ortuku (maghrib di Malang jam 17:20).

                                                    Edited by Gemini

            Saladin malah gembira walau mudiknya jalan kaki, mungkin karena dia anak ADHD jadi fisiknya juga lebih kuat. Malah daku yang jalannya harus lebih cepat, karena doi hampir lari menuju rumah mbahnya. Untung lalu-lintas tidak terlalu ramai walau agak deg-degan saat ada mobil boks melintas.

Tapi karena berangkat terburu-buru, daku lupa tidak bawa bekal air putih, jadi agak tremor waktu sampai di jembatan sulfat. Setelah melewati jembatan, daku istirahat sebentar, sambil mengecek pesan di ponsel. Lantas Saladin malah tambah semangat larinya, dan daku memasukkan lagi HP dengan cepat, lalu mengejarnya.

Kami pun berjalan lurus dan lantas belok kiri, melanjutkan perjalanan di daerah Sulfat. Sudah lumayan dekat, tapi tiba-tiba Saladin belok kiri ke…minimarket! Benar dugaanku, bekal minumannya habis jadi dia ingin beli minuman lagi.

                                            Edited bu ChatGPT

Aduh! Matahari hampir tenggelam, jadi Saladin kubujuk untuk beli mie instan saja (karena kalau dia memilih minuman, cukup lama di depan kulkas showcase). Untung dia mau dibilangin kalau minumnya di rumah mbah uti saja. Setelah membayar baru kami melanjutkan perjalanan, sekitar 150 meter lagi.

Tak disangka setelah menyebrang malah ketemu sohib zaman SD, yang sedang berboncengan dengan suaminya. Untung dia mendengar sapaanku, dan kami melambaikan tangan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sambil berdoa, dan tentu sambil berlari mengejar Saladin.

Akhirnya kami sampai di depan rumah mbah utinya Saladin, pas adzan maghrib. Perjalanan sekitar 40 menit, Alhamdulillah sampai juga. Tapi ortuku shock kok jalan kaki? Kok tidak telepon minta jemput? Yaa udahlah, udah terlanjur jalan kaki dan kami istirahat sebentar sebelum maghriban.

Inilah cerita mudik jalan kaki karena listrik mati, dadakan tapi seru. Yang paling menegangkan adalah ketika mengejar Saladin padahal di sebelahnya juga banyak sepeda motor yang lewat. Alhamdulillah, sudah terlewati, dan kalau dipikir-pikir kalau Saladin kemarin-kemarin nekat juga niru bundanya, hahahahahahaaaa.