Siapa
yang tak kenal Pak Dahlan Iskan? Beliau pernah menjadi wartawan, boss
perusahaan media nasional, dan juga menteri di era SBY. Nah, daku berkesempatan
untuk baca buku “Uniknya Dahlan” yang ditulis oleh salah satu wartawan. Sesuai
dengan judulnya, buku ini berisi tentang kisah-kisah unik dan lucu mengenai
beliau.
BTW
ini data-data bukunya:
Judul : Uniknya Dahlan
Penulis:
M. Djupri
Penerbit:
Noura Publishing
Editor: Rini Nurul Badaria
Tahun : 2013
Ada
banyak kisah tentang Dahlan Iskan yang unik. Salah satunya adalah ketika dikira
agen Koran. Bagaimana bisa? One day, beliau
datang ke kantor redaksi dan duduk di sebelah telepon, sengaja menunggu apakah
ada pelanggan yang menghubungi. Benar, kala itu ada pelanggan yang protes
karena korannya datang siang hari.
Pak
Dahlan minta maaf berkali-kali lalu beliau langsung mengantar Koran sendiri,
dengan memakai sepeda motor. Pelanggan senang, beliau lega.
Hal
yang hampir sama terjadi, beliau dikira agen Koran oleh penjaga hotel, karena
mengantar Koran yang memuat tentang kemenangan Persebaya (yang timnya menginap
di sana). Mungkin itu kejadian lebih dari 20 tahun lalu sehingga pak penjaga
tidak tahu wajah beliau (yang sebenarnya gampang dicari di google).
Kemudian,
ada satu lagi kejadian ketika Pak Dahlan menggunakan istilah unik seperti
‘aministrasi” atau “tompo”. Warga desa (pada masa kecil beliau) menyebut
administrasi sebagai aminitrasi, dan jangan sampai memusingkan kepala.
Sedangkan tompo adalah wadah yang dipakai para pedagang di pasar untuk
menyimpan uang.
Revolusi
Media di Indonesia
Meski
menyorot tentang Dahlan Iskan, buku Uniknya Dahlan secara tidak langsung juga
menyorot tentang evolusi media di Indonesia. Pertama, dulu ketika belum ada
program editing layout di komputer, maka dilayout secara manual. Pasti lebih
lama dan butuh ketelitian yang lebih tinggi.
Kedua,
dulu juga belum ada cetak Koran jarak jauh. Jadi Koran dicetak lalu
didistribusikan di kota-kota di Indonesia. Kalau sekarang kan enak, bisa cetak
dari jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dengan memanfaatkan teknologi.
Read: Kepak Sayap Putri Prajurit, Biografi Ani Yudhoyono
Akan
tetapi teknologi juga bisa jadi pisau bermata dua. Kalau dulu pebisnis mau
pasang iklan ya langsung datang ke kantor redaksi. Tapi sekarang iklan bisa
ditulis di akun media social atau memakai advertisement
berbayar.
Koran
Cetak vs Online
Koran
cetak yang saat ini masih terbit juga tidak sebanyak dulu (baca: sebelum tahun
2000). Penyebabnya karena masyarakat lebih memilih untuk baca media online
daripada Koran cetak. Beritanya lebih cepat dan bisa didapat dengan mudah,
tinggal buka HP aja.
Di
sinilah evolusi media terjadi, saat Koran cetak berubah menjadi versi online.
Jika di buku, seorang agen Koran disuruh meningkatkan jumlah pelanggan. Tapi
kalau media online, kru diminta untuk menaikkan jumlah viewers (karena otomatis
akan menarik minat para pengiklan).
Begitu
juga dengan cerita seorang penjaga kantor biro yang dimarahi, karena Pak Dahlan
merasa tempat itu kotor. Jika dulu tujuan kantor dibersihkan dan dicat ulang
untuk menarik banyak calon peminat iklan. Tapi sekarang yang dibersihkan dan
di-SEO-kan adalah situs beritanya, bersih dari segala virus, malware, black campaign, dll.
Dunia bergerak begitu cepat, Koran cetak banyak yang berubah jadi media online. Meski daku masih suka baca Koran cetak, tapi kenyataannya peminat Koran online juga makin banyak. Saat evolusi media terjadi maka para pebisnis media juga perlu berubah menjadi lebih baik lagi.


































.jpg)







